oleh

Revitalisasi Sekolah Tak Hanya Benahi Kelas, Tapi Juga Gerakkan Ekonomi Warga

Apa yang dirasakan siswa SD Negeri Leuwibatu 02 dan SD Negeri Leuwibatu 03 di Kabupaten Bogor setahun lalu kini tinggal kenangan. Ruang kelas yang bocor, dinding retak, hingga keterbatasan fasilitas belajar yang sebelumnya menjadi tantangan sehari-hari telah berganti dengan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan representatif.

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto, kedua sekolah tersebut kini memiliki bangunan baru yang lebih layak. Ruang kelas yang nyaman, fasilitas sanitasi yang memadai, halaman sekolah yang luas, serta perabot belajar baru menjadi wajah baru sekolah yang kini bergabung menjadi SD Negeri Leuwibatu 02.

Namun, dampak revitalisasi tidak hanya dirasakan oleh para siswa dan guru. Program pembangunan yang dimulai sejak Juli 2025 itu juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pelibatan tenaga kerja lokal dan penggunaan material dari pelaku usaha setempat.

Baca Juga  Hujan dengan Intensitas Tinggi sebabkan Banjir di Kabupaten Gorontalo

Kepala SD Negeri Leuwibatu 02, Sudrajat, mengatakan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pembangunan sekolah. Menurutnya, keterlibatan warga sejak tahap awal menciptakan rasa memiliki sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara langsung.

“Dari mulai pembangunan pun kita harus melibatkan masyarakat. Komite kita berdayakan, masyarakat kita berdayakan. Alhamdulillah masyarakat membantu kami,” ujar Sudrajat saat ditemui di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/6).

Dalam program tersebut, SD Negeri Leuwibatu 02 memperoleh enam ruang kelas baru, satu toilet, serta rehabilitasi tiga ruang kelas dengan anggaran sebesar Rp2,1 miliar. Sementara SD Negeri Leuwibatu 03 mendapatkan tiga ruang kelas baru, satu ruang administrasi, serta rehabilitasi empat ruang kelas dengan nilai anggaran Rp1,5 miliar.

Perubahan fasilitas sekolah turut meningkatkan semangat belajar siswa dan motivasi para guru. Guru kelas 2 SD Negeri Leuwibatu 02, Nurul Komariyah, mengaku suasana belajar menjadi jauh lebih menyenangkan setelah revitalisasi selesai dilakukan.

Baca Juga  Taipei Economic and Trade Office Gelar Resepsi Peringatan Hari Nasional Republic of China (Taiwan) ke-113

“Anak-anak senang sekali. Jadi lebih semangat. Mengajar juga setiap pagi jadi semangat bertemu anak-anak. Dulu sebelum proyek selesai, mereka selalu bertanya kapan bisa pindah ke gedung baru. Sekarang alhamdulillah sudah bisa belajar di sini,” tuturnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa revitalisasi sekolah dirancang untuk memberikan manfaat yang lebih luas dari sekadar pembangunan fisik. Selain meningkatkan kualitas sarana pendidikan, program ini juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja.

“Revitalisasi sekolah tidak hanya membangun sarana pendidikan, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Sistem pelaksanaannya dilakukan secara swakelola dengan mengutamakan tenaga kerja lokal serta pembelian material dari toko-toko setempat,” kata Abdul Mu’ti.

Pemerintah menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia pada 2026. Dengan asumsi setiap proyek melibatkan sedikitnya 10 tenaga kerja lokal, program tersebut berpotensi menyerap lebih dari 710 ribu pekerja.

Baca Juga  Ledia Hanifa Minta Data Komprehensif Konflik Pertanahan untuk Petakan Pola dan Akar Persoalan dalam RUU Reforma Agraria

“Kalau kita bisa membangun 71.744 satuan pendidikan tahun ini, insya Allah bisa terserap lapangan kerja untuk sekitar 710 ribu pekerja, bahkan bisa lebih,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menilai revitalisasi sekolah menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional, termasuk bagi anak-anak di wilayah pinggiran dan pelosok.

“Ini merupakan satu bukti kepedulian dari pemerintah, dari Bapak Presiden untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Semua anak di seluruh pelosok, termasuk di daerah pinggiran, harus punya akses pendidikan yang baik,” tegasnya.

Revitalisasi sekolah pada akhirnya tidak hanya menghadirkan ruang belajar yang lebih layak bagi generasi muda, tetapi juga menjadi investasi sosial yang menggerakkan ekonomi lokal dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

News Feed