oleh

Penggali Kubur di Pondok Rangon Merasa Kelelahan

SIN – Hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Senin malam tidak menghentikan aktivitas Junaedi bin Akim, 43, menggali liang lahat untuk jenazah pasien Covid-19.

Junaedi adalah salah satu petugas di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, satu dari dua tempat pemakaman khusus protokol Covid-19 di Jakarta.

Pada Senin malam itu, Junaedi menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menggali satu liang lahat dengan penerangan seadanya menggunakan genset.

Ada dua jenazah yang tiba di Pondok Ranggon setelah petang, padahal sejak pagi mereka telah memakamkan 28 jenazah lainnya.

“Semalam hujan-hujanan lanjut terus, mau tidak mau karena ini tanggung jawab. Saya baru selesai kerja itu jam setengah sembilan malam,” kata Junaedi kepada Anadolu Agency, Selasa.

Bagi Junaedi, September merupakan masa terberat setelah lebih dari enam bulan pandemi melanda Indonesia.

Baca Juga  Tarif Rapid Test Antigen Terbaru Di Stasiun Turun Jadi Rp85.000

Grafik kasus kematian Covid-19 di Jakarta cenderung meningkat sejak akhir Juli hingga September dan menjadi salah satu alasan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat kembali berlaku.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat lebih dari 20 pasien positif Covid-19 meninggal per hari pada September. Jumlah ini belum termasuk mereka yang meninggal sebagai suspect dan belum dites.

Pasien yang meninggal sebagai suspect juga wajib dimakamkan dengan protokol Covid-19. Grafik pemakaman jenazah dengan protokol ini ikut meningkat sejak Juli.

Di Pondok Ranggon, Junaedi menuturkan ada 30 hingga 40 jenazah per hari yang dimakamkan selama September. Padahal dua bulan yang lalu berkisar 20 pemakaman per hari.

“Paling banyak hari Sabtu kemarin yang dimakamkan itu sampai 44 jenazah dalam sehari,” tutur dia.

Menggali puluhan liang lahat menjadi sebuah rutinitas harian bagi para petugas. Junaedi sering bekerja hingga larut malam, sebab jenazah Covid-19 harus dimakamkan sesegera mungkin.

Baca Juga  ASN Sulbar Harus Budayakan 3M

Saking sibuknya, Junaedi menuturkan mereka sudah tidak sempat lagi menggali dan menyiapkan liang lahat sebanyak-banyaknya seperti yang mereka lakukan pada masa awal pandemi.

“Energi saya rasanya terkuras. Ritme setiap hari itu selalu padat. Jenazah sering datang berurutan, belum selesai memakamkan satu, sudah datang lagi beberapa yang lainnya,” ungkap dia.

Dengan kondisi ini, dia memprediksi lahan di TPU Pondok Ranggon akan penuh dalam kurun dua bulan ke depan.

“Sekarang dalam sebulan bisa sampai 800 pemakaman, kalau begini terus dalam dua bulan lagi semua lahan yang tersisa bisa terpakai,” kata dia.

Hingga Selasa, angka kematian akibat Covid-19 masih terus bertambah. Indonesia melaporkan 160 pasien Covid-19 meninggal dalam 24 jam terakhir, yang merupakan catatan kematian tertinggi sejak pandemi melanda. 30 kasus di antaranya terjadi di Jakarta.

Baca Juga  Menteri Agama Fachrul Razi Terpapar Virus Corona

Junaedi mengatakan rutinitas ini tidak hanya menguras fisik, namun juga sering membuat dia merasa iba dan sedih.

Beberapa jenazah dimakamkan hanya oleh para petugas berbaju hazmat, tanpa ada satu pun keluarga yang datang mendampingi ke tempat peristirahatan terakhir.

“Keluarganya bukan enggak ingin mengantar, tetapi harus dikarantina karena juga terinfeksi,” ungkap Junaedi.

“Biasanya setelah karantina selesai baru keluarganya datang ke pemakaman untuk ziarah,” lanjut dia.

Bagi Junaedi, dampak dari pandemi Covid-19 terasa sangat nyata dan mengkhawatirkan.

“Kadang muncul kekhawatiran saya juga, jangan sampai hal menyedihkan ini menimpa saya atau keluarga saya,” ujar Junaedi.

“Semoga orang-orang menganggap ini serius dan bisa patuh protokol kesehatan. Saya sudah melihat langsung, jumlah yang terdampak itu bukannya berkurang malah bertambah terus,” pungkas dia.

 

Sumber: Siberindo.com

Komentar

News Feed