oleh

Merawat Istiqamah di Lapangan Banteng, Perkuat Nilai Kebersamaan dan Pengabdian

SIN.CO.ID – Pagi itu, Rabu (5/8/2026), pelataran Kantor Kementerian Agama di Lapangan Banteng, Jakarta, memancarkan energi yang tak biasa. Seragam dinas harian (PDH) yang kaku berganti dengan lautan warna merah dan putih. Di bawah langit pagi yang teduh, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag berkumpul bukan untuk rapat paripurna, melainkan untuk merayakan rangkaian kegiatan hari jadi ke-81 Republik Indonesia.

Kekhusyukan doa mengawali hari, disusul dengan rentak senam pagi yang memancing keringat dan tawa. Di barisan terdepan, Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag, Helmi Nasaruddin Umar, bergerak penuh semangat, berbaur serasi dengan jajaran Staf Khusus, Staf Ahli, Tenaga Ahli, pejabat Eselon I dan II, hingga para staf pelaksana.

Di momen yang cair inilah, Menag menitipkan ruh pengabdian yang mendalam. Alih-alih sekadar bersorak merayakan kemerdekaan, beliau merajut pesan tentang karakter fundamental abdi negara yang dirangkumnya dalam sembilan pilar mulia: ISTIQAMAH.

“Teman-teman semuanya, mari kita laksanakan tugas dengan berpegang pada nilai ISTIQAMAH,” pesannya.

Sembilan huruf itu—Ikhlas, Sabar, Tawadhu, Istihsan, Qanaah, Amanah, Murad, Akhlak, dan Hayah—menjadi urat nadi dari seluruh rangkaian acara pagi itu.

Baca Juga  Reign of Fear: Cara Orang Bodoh Memimpin Negara

Nilai Tawadhu (rendah hati) dan Akhlak mulia langsung terejawantahkan saat Menag menghapus jarak psikologis antarpegawai. “Di lapangan, tidak ada perbedaannya antara pejabat dan bukan pejabat. Semuanya sama,” tegas Menag.

Ia mengingatkan bahwa di mata Tuhan, kedudukan setiap insan adalah setara, sehingga keangkuhan birokrasi harus dileburkan demi merawat persaudaraan dan toleransi di tempat kerja.

Menariknya, nilai-nilai ini tidak hanya berhenti di atas mimbar. Semangat “tanpa sekat” dan Tawadhu itu dibuktikan langsung oleh sang Menteri. Usai senam, rangkaian acara dilanjutkan dengan pertandingan tenis perdana Kemenag.

Baca Juga  6 Langkah Naik Kereta Gantung TMII

Menag tidak sekadar membuka acara dan duduk di pinggir lapangan. Beliau turun langsung, menggenggam raket, dan bermain tenis bersama para pegawai. Tawa yang pecah saat menteri dan staf saling berbalas pukulan bola menjadi potret nyata sebuah keluarga besar yang harmonis.

Meski kebebasan berekspresi dan rehat gembira ini sangat dianjurkan untuk menjaga kebugaran, namun nilai Amanah (tanggung jawab) tidak boleh dilupakan. Menag mengingatkan bahwa euforia kemerdekaan dan rutinitas olahraga ini tidak boleh sedikit pun mengurangi bobot tugas serta pelayanan kepada masyarakat.

News Feed