oleh

Pesantren Didorong Jadi Solusi Penguatan Karakter Bangsa

SIN.CO.ID – Ada sesuatu yang paradoks dalam pendidikan Indonesia. Kita semakin sibuk membicarakan kecerdasan, prestasi, teknologi, dan daya saing, tetapi pada saat yang sama masih menghadapi persoalan mendasar tentang kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, toleransi, dan kepedulian sosial. Sekolah bertambah modern, teknologi semakin dekat, informasi semakin mudah diperoleh, tetapi krisis karakter justru terasa semakin nyata.

Korupsi, kekerasan di lingkungan pendidikan, perundungan, ujaran kebencian, intoleransi, hingga lunturnya penghormatan terhadap orang tua dan guru bukan semata persoalan perilaku individu. Fenomena tersebut menunjukkan adanya persoalan yang lebih dalam: pendidikan kita belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia yang berilmu sekaligus berkarakter.

Dalam situasi demikian, ada satu institusi pendidikan yang sebenarnya memiliki pengalaman panjang dalam membangun karakter, tetapi belum selalu ditempatkan sebagai bagian penting dari solusi nasional: pesantren.

Pesantren selama berabad-abad tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Ia membangun sebuah ekosistem pendidikan yang menempatkan kehidupan sehari-hari sebagai ruang pembelajaran. Santri belajar disiplin melalui jadwal yang teratur, belajar tanggung jawab melalui tugas bersama, belajar menghormati guru melalui keteladanan, belajar hidup sederhana melalui tradisi keseharian, dan belajar bermasyarakat melalui kehidupan kolektif.

Baca Juga  Anies Janji Naikkan Gaji TNI, Polri, dan ASN Kalau Jadi Presiden

Di sinilah pesantren memiliki pelajaran penting bagi pendidikan karakter nasional. Karakter tidak cukup dibentuk melalui mata pelajaran atau slogan yang ditempel di dinding sekolah. Karakter lahir dari kebiasaan yang dilakukan berulang, lingkungan yang mendukung, serta figur yang dapat diteladani. Anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang kejujuran; mereka membutuhkan lingkungan yang membuat kejujuran menjadi kebiasaan. Mereka tidak cukup diajarkan tentang toleransi; mereka perlu mengalami kehidupan bersama dengan orang lain secara sehat dan bermartabat.

Tradisi pesantren memiliki modal tersebut.

Hubungan antara kiai, ustadz, santri, dan masyarakat membentuk sebuah pola pendidikan yang bersifat personal sekaligus sosial. Kiai tidak semata-mata hadir sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur teladan. Santri tidak hanya menjadi peserta didik, melainkan bagian dari komunitas yang memiliki tanggung jawab bersama. Model semacam ini memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan karakter membutuhkan relasi manusiawi, bukan hanya kurikulum.

Namun, mengangkat pesantren sebagai bagian dari solusi bukan berarti menganggap pesantren tanpa kekurangan. Pesantren juga menghadapi tantangan perubahan zaman. Penguatan karakter harus berjalan bersama penguasaan sains, teknologi, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kewirausahaan, dan keterampilan sosial. Pesantren tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu. Tradisi yang baik harus dipertahankan, sementara pendekatan pendidikan yang sudah tidak relevan perlu diperbarui.

Baca Juga  KPK Upayakan Proses Sertifikasi Aset PLN di Jabar

Justru di situlah masa depan pesantren ditentukan. Pesantren yang mampu menggabungkan kedalaman spiritual dengan keluasan wawasan akan memiliki peran besar dalam membentuk generasi Indonesia. Santri masa kini tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga harus mampu membaca perubahan sosial, memahami teknologi, menghargai perbedaan, serta mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan etika.

Sayangnya, kebijakan pendidikan nasional sering lebih sibuk mencari model baru daripada belajar dari praktik pendidikan yang telah tumbuh dalam masyarakat. Pesantren kadang hanya hadir dalam wacana ketika berbicara tentang pendidikan keagamaan, padahal kontribusinya jauh lebih luas. Ia memiliki pengalaman dalam membangun kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, pesantren perlu ditempatkan sebagai mitra strategis dalam agenda pembangunan karakter bangsa. Pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat belajar dari praktik-praktik baik pesantren, tanpa harus menyalin seluruh sistemnya. Nilai seperti kesederhanaan, penghormatan terhadap ilmu, ketekunan, tanggung jawab, gotong royong, dan keteladanan dapat diterjemahkan ke dalam konteks pendidikan yang lebih luas.

Baca Juga  Transjakarta Tutup Sementara Empat Halte Mulai 4 September 2022

Pada akhirnya, krisis karakter bukan sekadar persoalan anak muda. Ia merupakan cermin dari lingkungan sosial yang kita bangun. Anak belajar kejujuran dari orang dewasa, belajar menghormati dari perilaku di sekitarnya, dan belajar bertanggung jawab dari contoh yang mereka lihat setiap hari.

Maka, jika bangsa ini sungguh-sungguh ingin memperbaiki karakter generasinya, jangan hanya mencari jawaban di ruang-ruang seminar dan dokumen kebijakan. Tengok kembali pesantren. Di sana terdapat pengalaman panjang tentang bagaimana ilmu, akhlak, disiplin, keteladanan, dan kehidupan bersama dirajut menjadi satu proses pendidikan.

Pesantren bukan solusi masa lalu. Ia dapat menjadi jawaban bagi masa depan—asal kita bersedia melihatnya bukan sebagai institusi pinggiran, melainkan sebagai salah satu kekuatan penting dalam membangun manusia Indonesia yang berilmu, berintegritas, dan berakhlak.

News Feed