oleh

Dari Percepatan Tanam ke Swasembada: Lebak Buktikan Peningkatan Produksi Pertanian Berkelanjutan

LEBAK – Kabupaten Lebak yang menjadi salah satu penyangga pangan utama Provinsi Banten terus menunjukkan kinerja positif dalam sektor intensifikasi tanaman pangan.

Berdasarkan data resmi Pemerintah Kabupaten Lebak, realisasi tanam dan panen padi sepanjang tahun 2025 berhasil melampaui target yang ditetapkan, sementara capaian hingga April 2026 menunjukkan percepatan yang menggembirakan meskipun masih dalam tahap awal tahun tanam.

Sepanjang periode Januari hingga Desember 2025, target luas tanam padi (sawah dan gogo) ditetapkan sebesar 124.117 hektare. Namun, realisasi di lapangan mencapai 137.255 hektare, atau 110,59 persen dari target. Artinya, ada kelebihan
tanam hampir 11 persen.

Sementara itu, luas panen padi pada 2025 juga melampaui target. Dari target 121.154
hektare, realisasi panen mencapai 141.697 hektare atau 116,96 persen. Lonjakan luas
panen ini berdampak langsung pada produksi gabah kering giling (GKG) yang mencapai 827.856 ton, melampaui target awal sebesar 652.918 ton.

Produktivitas padi sawah pada 2025 tercatat 5,96 ton per hektare, sedikit di atas target 5,59 ton per hektare. Adapun padi gogo mencapai produktivitas 3,24 ton per hektare, meskipun masih di bawah target 3,48 ton per hektare.

Secara rinci, capaian padi sawah pada 2025 (Sumber : Laporan SP dinas Pertanian
2025) adalah:
* Target tanam: 111.908 ha → Realisasi: 130.830 ha (116,91%)
* Target panen: 109.670 ha → Realisasi: 135.635 ha (123,68%)
* Target produksi: 612.982 ton → Realisasi: 808.214 ton (131,85%)

Baca Juga  Ketua Umum SMSI Firdaus Dukung Kapolri Utamakan Langkah Damai

“Realisasi yang melampaui target ini menunjukkan bahwa petani Lebak bekerja keras dan dukungan dari penyuluh pertanian serta pemerintah daerah mulai berdampak nyata,” tegas Rahmat Yuniar Kadis Pertanian kab Lebak.

Ketersediaan Beras 2025: Surplus Hingga 21,8 Bulan

Dengan total produksi GKG sebesar 827.856 ton dan tingkat konversi menjadi beras
(63,23 persen), Kabupaten Lebak menghasilkan sekitar 523.450 ton beras (dari perhitungan: 827.856 x 63,23% = 523.450 ton). Sementara kebutuhan beras tahunan
untuk penduduk Lebak yang berjumlah sekitar 1,45 juta jiwa dengan konsumsi 106,48 kg per kapita per tahun adalah 154.253 ton.

Dengan demikian, Lebak mencatatkan surplus beras sebesar 369.197 ton atau setara
dengan kebutuhan untuk 28,6 bulan (lebih dari dua tahun). Bahkan jika dihitung
berdasarkan kebutuhan hingga Desember 2025, surplus mencapai 280.422 ton yang
mampu menopang kebutuhan selama 21,8 bulan. Artinya, Kabupaten Lebak tidak hanya swasembada beras, tetapi juga mampu menjadi lumbung pangan bagi daerah lain di Banten.

Baca Juga  KAI Dukung Program Kurangi Sampah Plastik dengan Kemasan Ramah Lingkungan

Capaian Awal 2026: Momentum Percepatan Tanam

Memasuki tahun 2026, gerakan percepatan tanam terus digencarkan. Meskipun data
yang tersedia baru mencapai periode Januari hingga April 2026, tren positif sudah
mulai terlihat.

Target tanam padi sawah tahun 2026 ditetapkan sebesar 111.908 hektare. Hingga April 2026, realisasi tanam telah mencapai 10.138 hektare atau 9,06 persen dari target tahunan. Luas panen pada periode yang sama mencapai 11.108 hektare dengan
produksi 65.921 ton GKG.

Sementara untuk padi gogo, hingga April 2026 tercatat luas tanam 310 hektare dan
panen 798 hektare dengan produksi 2.570 ton.

Secara total (padi sawah + gogo), realisasi tanam hingga April 2026 mencapai 10.448
hektare dan realisasi panen 11.906 hektare dengan produksi 68.491 ton GKG.

Meskipun angka ini masih kecil dibanding target tahunan, hal ini wajar karena Januari–April merupakan awal musim tanam. Yang terpenting, laju tanam menunjukkan percepatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Percepatan Tanam: Menghilangkan Masa Kritis Lahan Kosong

Salah satu strategi utama yang dinilai paling strategis adalah gerakan percepatan
tanam padi. Mengapa ini begitu vital? Karena Lebak adalah sentra produksi. Jika waktu tanam bisa dipersingkat setelah masa panen, maka lahan sawah tidak akan terlantar terlalu lama. Hal ini juga menjadi benteng antisipasi terhadap perubahan musim yang ekstrem dan potensi kekeringan.

Baca Juga  IndiHome Luncurkan Series Musikal Anak Pertama di Indonesia

Ketika kondisi air masih cukup, petani harus segera didorong untuk mengolah tanah dan menanam. Jangan sampai air terbuang sia-sia.

“Kami mengajak seluruh elemen—petani, penyuluh, kelompok tani, gapoktan,
pemerintah desa, camat, hingga mitra usaha—untuk menjadikan percepatan tanam
sebagai gerakan bersama. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolektivitas dan sinergi” tegas Rahmat Yuniar Kadis Pertanian kab Lebak.

Target akhir yang dicanangkan adalah produksi padi yang terjaga stabilitasnya, bahkan terus meningkat. Ketersediaan beras harus aman sehingga ketahanan pangan daerah semakin kokoh.

“Lebak harus terus menjadi daerah penopang pangan di Provinsi Banten. Kami tidak
hanya mengejar luas tanam dan panen, tetapi juga membangun ekosistem pertanian
yang kuat dari hulu hingga hilir. Mulai dari akses pasar, pembeli yang jelas, pengolahan pascapanen, hingga perbaikan harga di tingkat petani,” tutup harapan Rahmat Yuniar.

Dengan strategi yang masif dan kolaborasi yang erat, Kabupaten Lebak optimistis tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga kesejahteraan petaninya secara berkelanjutan. (ADV)

News Feed