oleh

SEAQIL Luncurkan SEA-MLE Roadmap, Risalah Kebijakan Literasi dan Kebijakan Bahasa Inggris

SIN.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) meluncurkan Southeast Asian Roadmap on Multilingual Education (SEA-MLE Roadmap) dan dua risalah kebijakan, yakni terkait literasi dan bahasa Inggris. Peluncuran dokumen tersebut berlangsung dalam rangkaian pelaksanaan the Seventeenth Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL ke-17) yang berlangsung di Jakarta.
Ketiga publikasi itu memuat arah pengembangan pendidikan multibahasa dan rekomendasi untuk memperkuat peran guru dalam pembelajaran literasi serta bahasa Inggris. Pemangku kepentingan dapat memanfaatkannya sebagai rujukan dalam merancang program yang mempertimbangkan keragaman bahasa siswa dan kebutuhan pengembangan kompetensi guru.

Direktur SEAQIL, Brian Arieska Pranata menegaskan bahwa ketiga publikasi tersebut merupakan bagian dari upaya SEAQIL untuk menghubungkan hasil kajian dengan pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan bahasa. SEA-MLE Roadmap dikembangkan oleh SEAQIL bersama SEAMEO Secretariat dengan dukungan teknis dari UNESCO Regional Office in Bangkok and Office for UN Coordination for Asia and the Pacific (UNESCO Bangkok). Dokumen ini menyediakan kerangka regional bagi negara-negara anggota SEAMEO untuk melaksanakan dan memantau penguatan pendidikan multibahasa sesuai dengan prioritas nasional dan konteks lokal.

‘Salah satu persoalan yang disoroti adalah perbedaan antara bahasa yang digunakan murid di rumah dan bahasa pengantar di sekolah. Pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu memungkinkan murid membangun kemampuan dasar melalui bahasa yang paling mereka pahami, sekaligus mengembangkan penguasaan bahasa nasional dan bahasa lainnya secara bertahap,” ungkap Brian.

Baca Juga  Pustakawan Harus Memiliki Keterampilan untuk Beradaptasi dengan Perkembangan IT

Roadmap mencakup enam pilar, yaitu akses, pembelajaran, guru, kebijakan, data, dan komunitas. Pilar-pilar tersebut meliputi perluasan akses terhadap pendidikan multibahasa, pengembangan kurikulum dan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan bahasa siswa, penguatan kapasitas guru, dukungan kebijakan dan pendanaan, pemanfaatan data untuk perencanaan dan pemantauan, serta pelibatan komunitas dalam mendukung pendidikan multibahasa. Setiap negara dapat menetapkan pilar dan menyesuaikan langkah pelaksanaannya berdasarkan kebutuhan masing-masing.

Sementara itu, Education Programme Specialist at UNESCO Bangkok, Rika Yorozu, mendorong para pemangku kepentingan untuk membaca roadmap, menelaah keenam pilarnya, dan menentukan langkah yang dapat dilakukan sesuai dengan konteks masing-masing. Ia juga turut mendorong penerjemahan Roadmap ke dalam bahasa nasional dan bahasa lokal agar dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak pihak. “Roadmap ini akan lebih bermakna ketika diterapkan secara nyata sehingga dapat mendorong kolaborasi dan pembelajaran berkelanjutan” ujar Rika.

Risalah kebijakan Penguatan Peran Guru Bahasa dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Siswa disusun berdasarkan kajian kebutuhan guru melalui diskusi di Aceh Besar, Makassar, dan Ternate di tahun 2024. Kajian tersebut menunjukkan perlunya penguatan pemahaman guru tentang literasi serta strategi pembelajaran yang membantu siswa memahami teks.

Baca Juga  Penutupan Sementara 1.057 Perusahaan di DKI Jakarta

Risalah ini merekomendasikan tiga langkah strategis, yaitu menyamakan pemahaman guru tentang literasi, meningkatkan kapasitas guru, dan memperkuat ekosistem pendukung literasi. Rekomendasi tersebut menekankan bahwa pengembangan profesional guru perlu disertai dukungan lingkungan belajar agar upaya peningkatan literasi siswa dapat berjalan secara berkelanjutan.

Risalah kebijakan Menakar Kebutuhan Peningkatan Kemampuan Guru Bahasa Inggris yang Inovatif dan Adaptif berfokus pada kesiapan guru dalam mengajar bahasa Inggris di SD. Kajian kebutuhan di Aceh Besar, Makassar, dan Ternate. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, risalah kebijakan ini merumuskan sejumlah rekomendasi strategis untuk memperkuat implementasi kebijakan pembelajaran bahasa Inggris di SD.

Rekomendasi mencakup perumusan kebijakan komprehensif mengenai kualifikasi dan kompetensi guru serta penerapan pendekatan pembelajaran inklusif yang mengakomodasi keberagaman linguistik siswa melalui translanguaging dan Mother Tongue-Based Multilingual Education (MTB-MLE). Selain itu, diperlukan penguatan pendidikan calon guru melalui kolaborasi antara pemerintah dan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), percepatan rekrutmen guru bahasa Inggris di SD, serta penyediaan pelatihan khusus bagi guru yang tidak berlatar belakang pendidikan bahasa Inggris.

Rekomendasi lainnya meliputi penguatan pengembangan profesional guru secara berkelanjutan, peningkatan kompetensi dalam konteks English for Young Learners (EYL), serta pengembangan kemampuan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pengajaran berbasis teks serta konteks yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajar murid. Pentingnya pengembangan kompetensi guru juga disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Biro Kerja Sama, Kemendikdasmen, Lukmanul Hakim. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa dukungan bagi guru untuk menghadapi perkembangan teknologi dan memanfaatkannya secara tepat dalam pembelajaran sangat penting dilakukan.

Baca Juga  Jalan Kaki Yogya – Bandung Kobarkan Kampanye Melawan Stroke (1)

Menurutnya, seiring dengan perkembangan teknologi, guru perlu memperoleh kesempatan untuk memperkuat pengetahuan pedagogis serta kemampuan dalam memilih dan memanfaatkan teknologi secara tepat. Kemendikdasmen terus mendukung pengembangan profesional guru, antara lain dalam bidang pembelajaran mendalam, bahasa Inggris, literasi dan numerasi, kepemimpinan sekolah, serta sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics/STEM).

“Tujuannya bukan sekadar mendorong penggunaan teknologi yang lebih luas, melainkan memastikan guru mampu mengambil keputusan yang tepat mengenai bagaimana teknologi dapat mendukung pembelajaran siswa,” ujar Lukmanul.

SEA-MLE Roadmap dan kedua risalah kebijakan dapat diunduh melalui https://www.qiteplanguage.org/policybrief. Publikasi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan diskusi profesional dan rujukan penyusunan program yang sesuai dengan kebutuhan setiap lembaga. Melalui peluncuran ini, SEAQIL memperkuat perannya sebagai pusat regional pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan bidang bahasa di Asia Tenggara. Kajian kebutuhan guru dan kerja sama regional menjadi dasar untuk menghubungkan rekomendasi kebijakan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.***

News Feed