oleh

Kemenag Perkuat Moderasi Beragama untuk Menyemai Perdamaian dan Kemanusiaan

SIN.CO.ID – Indonesia bukanlah sekadar tempat kita lahir dan tinggal. Indonesia adalah sebuah rajutan mahakarya yang dipertautkan oleh benang kemajemukan. Di atas tanah ini, keberagaman suku, ras, budaya, dan agama ditakdirkan untuk saling melengkapi, bukan saling menegasikan. Namun, merawat sebuah bangsa yang besar tentu membutuhkan komitmen yang hidup. Di tengah era disrupsi informasi dan potensi gesekan sosial, Moderasi Beragama hadir bukan lagi sebagai pilihan, melainkan sebagai sebuah jangkar spiritual dan kebutuhan kebangsaan yang mendesak.

Sebagai seorang rohaniwan Khonghucu yang bergerak dalam ruang dialog lintas iman, saya memandang moderasi beragama bukan sebagai upaya mendangkalkan akidah atau mencampuradukkan ajaran iman. Moderasi beragama adalah sebuah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi keagamaan yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum.

Filosofi Zhong Yong: Jalan Tengah yang Harmonis

Dalam kitab suci Khonghucu, terdapat mutiara kearifan yang disebut dengan Zhong Yong (Tengah Harmonis). Konsep ini melandasi pandangan saya mengenai hakikat sejati dari moderasi. Berada di “Tengah” (Zhong) bukan berarti bersikap netral tanpa prinsip atau kompromistis secara membabi buta. Zhong adalah kondisi seimbang, sebuah titik kokoh di mana kita tidak condong ke ekstrem kanan (fanatisme buta yang radikal dan merasa benar sendiri) dan tidak pula runtuh ke ekstrem kiri (sikap apatis, sekuler, atau abai terhadap nilai transendental).

Ketika keseimbangan itu terjaga, maka lahirlah Keharmonisan (Yong). Ibarat siklus Yin dan Yang yang saling mengisi, keharmonisan di Indonesia akan tercapai apabila setiap pemeluk agama mampu memegang teguh keyakinan imannya dengan kuat, namun tetap lentur dan bijaksana dalam menghormati ruang hidup sesama yang berbeda keyakinan.

Baca Juga  Anggota Paguyupan Sebimbing Sekundang di Banten Diimbau Sukseskan Pilkada Serentak 2024

Hakikat Kemanusiaan: Persaudaraan Semesta dan Manusia yang Dapat Dipercaya

Mengapa moderasi beragama itu sifatnya fitrah? Karena pada dasarnya, setiap manusia dilahirkan dengan membawa Watak Sejati (Xing) yang suci dari Tuhan (Tian). Di dalam Xing tersebut, tertanam benih kebajikan universal yang luhur: Cinta Kasih (Ren), Kebenaran/Keadilan (Yi), Kesusilaan (Li), dan Kebijaksanaan (Zhi).

Empat benih ini bermuara pada satu nilai krusial, yaitu Dapat Dipercaya (Xin). Sebab, dengan menghidupi dan menjalankan Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan, serta Kebijaksanaan secara konsekuen dalam kehidupan bermasyarakat, maka dengan sendirinya manusia akan menjelma menjadi pribadi yang benar-benar Dapat Dipercaya.

Oleh karena itu, ketika kita merawat kerukunan antar-umat beragama, kita sebenarnya sedang memenuhi kodrat suci tersebut. Tradisi kami memandang seluruh umat manusia melampaui sekat-sekat perbedaan lahiriah sebagai satu keluarga besar di bawah naungan Tian.

Baca Juga  Pendekatan Digital Agar Tumbuh Entrepreneur Bangkitkan Ekonomi

Sebagaimana ditegaskan dalam kitab suci: “Di empat penjuru lautan, semua manusia adalah bersaudara.” (Kitab Lunyu XII:5)

Pondasi dari persaudaraan semesta ini dirawat melalui prinsip Tepasalira (tenggang rasa) yang diajarkan oleh Nabi Kongzi: “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain” (Kitab Lunyu XV:24). Jika kita tidak ingin disakiti, janganlah kita menyakiti orang lain. Jika kita tidak ingin tempat ibadah kita diganggu, janganlah mengusik tempat ibadah orang lain. Jika kita ingin keyakinan kita dihormati secara tulus, maka sekat ego harus diturunkan untuk menghormati keyakinan sesama.

News Feed