oleh

Menaklukkan Diri, Meneguhkan Pengabdian untuk Menguatkan Negeri

SIN.CO.ID – Bulan Agustus mengajak kita memaknai kembali arti kemerdekaan yang telah diraih melalui pengorbanan para pahlawan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan fisik. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini tidak lagi datang dari penjajah, melainkan dari “penjajahan batin” yang tampak dalam ketidak jujuran, penyalahgunaan amanah, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan lunturnya rasa tanggung jawab. Oleh karena itu, mengisi kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengejar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dengan memperkuat moral dan menjaga integritas agar kemerdekaan dan kemajuan bangsa benar-benar membawa manfaat bagi bangsa.

Moral dan integritas dimulai dari pilihan untuk tetap berbuat benar, baik saat dilihat maupun tidak dilihat orang lain. Sikap inilah yang menumbuhkan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika setiap orang menjalankan amanah dengan jujur, bertanggung jawab, dan konsisten, maka pelayanan kepada masyarakat akan semakin baik, hubungan antarsesama semakin harmonis, serta berbagai persoalan lebih mudah diselesaikan melalui saling percaya dan kerja sama. Karakter seperti inilah yang perlu terus ditumbuhkan sebagai bagian dari upaya mengisi kemerdekaan.

Dalam Agama Buddha, Sang Buddha telah mengajarkan latihan moral yang disebut dengan sīla.  Sīla bukan sekadar larangan untuk berbuat salah, melainkan latihan membiasakan diri memilih perbuatan yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Melalui praktik Pancasīla Buddhis yang diajarkan Sang Buddha dalam Sikkhāpada Sutta, Aṅguttara Nikāya, seseorang belajar bersikap jujur, bertanggung jawab, menghormati kehidupan, menjaga ucapan, dan mengendalikan diri. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar tumbuhnya integritas dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.

Pentingnya moralitas ditegaskan pula oleh Sang Buddha dalam Kitab Suci Dhammapada syair 183, dimana Sang Buddha mengajarkan “Tidak berbuat segala bentuk kejahatan, memperbanyak kebajikan, dan menyucikan hati; itulah ajaran para Buddha.” Sementara dalam Sigālovāda Sutta, Buddha menjelaskan bahwa kehidupan yang baik dibangun melalui tanggung jawab, saling menghormati, dan menjalankan kewajiban serta hubungan timbal balik dengan benar dalam keluarga maupun masyarakat. Ajaran tersebut menunjukkan bahwa moral bukan hanya urusan pribadi semata, tetapi juga menjadi fondasi terciptanya kehidupan bersama yang aman dan harmonis.

Baca Juga  Parlemen OKI dan Jalan Baru Legislasi Ekonomi Dunia Islam

Lebih lanjut, Sang Buddha mengajarkan bahwa ada landasan integritas yang disebut dengan hiri dan ottappa, dua kualitas batin yang menjaga seseorang tetap berada di jalan kebajikan. Dalam Lokapala Sutta, Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menyampaikan: “Para bhikkhu, ada dua kualitas terang ini. Apakah dua ini? rasa malu dan rasa takut. Ini adalah kedua kualitas terang itu. Para bhikkhu, dua kualitas terang ini melindungi dunia.”

Hiri adalah rasa malu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik karena bertentangan dengan kesadaran hati nurani, sedangkan ottappa adalah kesadaran akan akibat buruk dari perbuatan tersebut sehingga seseorang enggan melakukannya.

Hiri dan ottappa merupakan bentuk dari kemenangan atas diri sendiri. Seseorang yang mampu menahan diri dari berbuat curang karena malu melanggar hati nurani dan menghindari perbuatan buruk karena menyadari akibatnya, telah menaklukkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan dalam dirinya. Dari kemenangan batin inilah lahir kejujuran, tanggung jawab, dan integritas. Ketika semakin banyak individu mampu menaklukkan dirinya sendiri, semakin kuat pula fondasi moral bangsa. Dengan demikian, memperkuat moral dan integritas bangsa tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi dari keberhasilan setiap orang menjaga hati, pikiran, ucapan, dan perbuatannya sesuai Dhamma.

Baca Juga  Wujudkan Visi Presiden soal Transparansi, Kemenpora Gelar Seleksi Terbuka Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga

Momentum peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan saat yang tepat untuk memperkuat moral dan integritas bangsa. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan para pahlawan hendaknya tidak hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga diisi dengan tekad untuk membangun karakter yang bermoral dan berintegritas. Dengan demikian, semangat kemerdekaan tidak hanya mendorong kemajuan pembangunan, tetapi juga memperkokoh moral dan integritas sebagai fondasi membangun Indonesia yang berdaulat, adil, maju, dan makmur.

Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

News Feed