SIN.CO.ID – Singapura menjadi titik penting perkembangan ekosistem genomik Asia-Pacific setelah Precision Health Research, Singapore (PRECISE) ditetapkan sebagai Regional Hub Institution (RHI) pertama Global Alliance for Genomics and Health (GA4GH) untuk kawasan Asia-Pacific.
Penetapan tersebut diumumkan pada pembukaan GA4GH 14th Plenary pada 29 September 2026. Pertemuan berlangsung pada 28 September hingga 2 Oktober 2026 di Singapura dan menjadi plenary GA4GH pertama yang diselenggarakan di Asia.
Melalui peran sebagai Regional Hub, PRECISE akan menjadi penghubung antara komunitas genomik Asia-Pacific dan jaringan global GA4GH, termasuk dalam pengembangan kapasitas, jejaring regional, serta penerapan standar dan kerangka kerja genomik.
PRECISE Menjadi Regional Hub Pertama
Pada pembukaan GA4GH 14th Plenary, Peter Goodhand, President GA4GH Inc., dan Professor Patrick Tan, Executive Director PRECISE, menandatangani memorandum of understanding (MoU) terkait penetapan PRECISE sebagai Regional Hub Institution pertama GA4GH di Asia-Pacific.
Acara pembukaan juga dihadiri Mdm Rahayu Mahzam, Minister of State untuk Ministry of Digital Development and Information serta Ministry of Health Singapura. Penetapan ini memperkuat posisi Singapura sebagai salah satu pusat kolaborasi genomik regional sekaligus membuka jalur koordinasi yang lebih erat antara komunitas genomik Asia-Pacific dengan jaringan GA4GH secara global.
Forum yang Mempertemukan Komunitas Genomik Global
GA4GH merupakan komunitas internasional yang mengembangkan standar dan kerangka kerja untuk mendukung penggunaan, pengelolaan, dan pertukaran data genomik serta kesehatan secara aman dan interoperabel.
GA4GH 14th Plenary mempertemukan peneliti, klinisi, pemerintah, akademisi, organisasi kesehatan, industri, dan berbagai pemangku kepentingan genomik dari berbagai negara.
Lebih dari 550 peserta terdaftar secara langsung dalam pertemuan tahun ini. Agenda utama mencakup pembahasan mengenai AI dan genomik, genomic medicine, population genomics, newborn screening, data governance, interoperabilitas, serta penerjemahan hasil sequencing menjadi manfaat klinis.
Sejumlah tokoh genomik internasional juga tampil dalam agenda, antara lain Geoffrey Ginsburg dari NIH/All of Us Research Program, Rob Annan dari Genome Canada, Eric Green dari Illumina, Robert Green dari Mass General Brigham/Harvard, serta Richard Scott dari Genomics England.
Indonesia Hadir dalam Diskusi Genomik Asia-Pacific
Keterlibatan Indonesia juga terlihat dalam rangkaian GA4GH 14th Plenary. Salah satu nama yang mendapat peran dalam agenda resmi adalah Indri Rooslamiati Supriadi dari Center for Biomedical and Genomic Health and Clinical Research Center (INA-CRC). Indri tercatat sebagai pembicara dalam sesi “From Sequencing to Outcomes”, yang membahas bagaimana teknologi sequencing dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata dalam sistem kesehatan.
Kehadiran Indri memperlihatkan keterlibatan Indonesia dalam diskusi mengenai implementasi genomic medicine, mulai dari pengembangan data dan teknologi hingga penerapannya dalam layanan kesehatan.
Selain itu, Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) juga membawa pengalaman Indonesia mengenai pengembangan infrastruktur genomik dan tata kelola data. Dalam salah satu materi yang dipresentasikan bersama NalaGenetics, dibahas penerapan prinsip data visiting untuk memungkinkan analisis genomik dilakukan di lingkungan infrastruktur pemilik data. Pendekatan ini memungkinkan data genomik sensitif tetap berada dalam lingkungan yang dikendalikan oleh pemilik data, sementara perangkat analisis dapat digunakan di dalam lingkungan tersebut. Kolaborasi BGSI dan NalaGenetics tersebut menjadi salah satu contoh penerapan prinsip GA4GH dalam konteks Indonesia.
Data Sovereignty Menjadi Bagian Penting
Pengembangan infrastruktur genomik nasional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan sequencing, tetapi juga bagaimana data tersebut dapat dikelola dan dimanfaatkan secara aman.
Dalam implementasi yang dibawa ke forum GA4GH, pendekatan yang digunakan mencakup 25 gen farmakogenomik, sekitar 500 varian terkurasi, dan lebih dari 300 obat yang dapat dikaitkan dengan informasi farmakogenomik.
Model tersebut menunjukkan bagaimana prinsip interoperabilitas dan data visiting dapat digunakan untuk mendukung kolaborasi analisis tanpa harus memindahkan data genomik sensitif dari infrastruktur nasional.
Bagi Indonesia, pendekatan seperti ini menjadi relevan dalam membangun ekosistem genomik yang memperhatikan data sovereignty, keamanan, auditabilitas, interoperabilitas, dan responsible data sharing.
Researcher Indonesia dari RSPON Turut Hadir
Selain nama-nama Indonesia yang memiliki peran dalam sesi atau materi resmi, sejumlah researcher Indonesia juga hadir sebagai peserta dalam GA4GH 14th Plenary.
Salah satunya adalah Glory Gelarich Simanjuntak, M.Biomed, researcher dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono (RSPON) Jakarta.
Kehadiran Glory menambah representasi dari lingkungan rumah sakit dan penelitian neurologi Indonesia dalam forum genomik internasional tersebut. Sebagai researcher yang berkecimpung dalam bidang genomik dan riset kesehatan, partisipasinya menjadi bagian dari keterhubungan peneliti Indonesia dengan perkembangan teknologi, standar data, dan kolaborasi genomik di kawasan Asia-Pacific.
Dengan demikian, keterlibatan Indonesia dalam GA4GH 14th Plenary terlihat melalui beberapa lapisan, mulai dari pembicara dan institusi pemerintah/riset, pengembangan infrastruktur genomik, kolaborasi industri, hingga researcher dari rumah sakit.
Peluang untuk Indonesia
Penetapan PRECISE sebagai Regional Hub pertama GA4GH untuk Asia-Pacific memberikan titik koneksi baru bagi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, keterhubungan tersebut dapat mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia, standar dan interoperabilitas data, infrastruktur bioinformatika, kolaborasi penelitian lintas negara, serta penerapan genomik dalam precision medicine.
Kehadiran sejumlah researcher dan profesional Indonesia di forum ini juga menunjukkan bahwa ekosistem genomik Indonesia mulai terhubung dengan pembahasan global mengenai bagaimana data genomik dapat digunakan secara aman, interoperabel, dan bertanggung jawab.
GA4GH 14th Plenary di Singapura pada akhirnya bukan hanya menjadi forum untuk membahas perkembangan teknologi genomik, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai negara dalam membangun ekosistem genomik Asia-Pacific yang lebih terhubung. Bagi Indonesia, keterlibatan dalam forum tersebut membuka peluang untuk membangun jejaring, berbagi pengalaman, dan membawa kebutuhan pengembangan genomik nasional ke dalam percakapan regional dan global.










