oleh

Dari Masjid hingga Ruang Digital, Pesan Imam Besar Suriah untuk Anak Muda Indonesia

SIN.CO.ID – Masjid memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat pelaksanaan ibadah. Imam Besar Suriah, Sheikh Dr. Alaa al-Din al-Sayiq, memandang masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat yang dapat hadir dalam pendidikan, pelayanan sosial, penyelesaian persoalan, hingga pembinaan generasi muda.

Pandangan tersebut disampaikan Sheikh Alaa al-Din dalam wawancara di sela rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta. Menurutnya, setelah forum tersebut, imam perlu mengambil peran lebih besar dengan menghidupkan kembali fungsi sosial masjid di tengah masyarakat.

“Al-ma’mul ba’da hadza al-mu’tamar an ya’khudza al-imamu daurahu, wa an yuhawwala masjidahu ila halatin mujtama’iyyatin tabutstsu al-khaira fi kulli athraf al-mujtama’,” Ujar Syekh Alaa al-Din saat sesi interview bersama tim HKP, Minggu (27/9/2026).

Artinya: “Yang diharapkan setelah konferensi ini adalah agar imam mengambil perannya dan mengubah masjidnya menjadi ruang sosial yang menyebarkan kebaikan ke seluruh lapisan masyarakat.”

Sheikh Alaa al-Din menjelaskan, masjid pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak hanya menjadi tempat ibadah. Masjid juga menjadi ruang yang bersentuhan langsung dengan berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari ilmu pengetahuan, pelayanan kesehatan, bantuan sosial, penyelesaian perselisihan, hingga persoalan kehidupan bermasyarakat.

Masjid dan Generasi Muda

Salah satu cara menghidupkan fungsi tersebut, menurut Sheikh Alaa al-Din, adalah dengan menghadirkan generasi muda sebagai bagian penting dari kehidupan masjid. Anak muda perlu memiliki kedekatan dengan masjid sehingga keberadaannya tidak hanya terasa ketika berlangsung kegiatan ibadah.

Ia menyebut masjid semestinya dapat menjadi ruang berkumpul, berdiskusi, beraktivitas, dan membangun hubungan sosial yang positif bagi anak muda. “An yakuna al-masjidu huwa baitahum ats-tsani,” sebutnya.

Baca Juga  Kejaksaan Negeri Kota Bekasi Terima Audiensi dari National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kota Bekasi

Artinya: “Hendaknya masjid menjadi rumah kedua mereka.”

Menurut Sheikh Alaa al-Din, kedekatan tersebut dapat membuat masjid menjadi bagian dari keseharian generasi muda. Mereka dapat bertemu dengan teman dan saudara, berdiskusi, serta menjalankan berbagai aktivitas positif di lingkungan masjid.

“Huna yajtami’una bi ashdiqa’ihim bi ikhwanihim, yatabahatsuna wa yasharuna. Fa huna hadza makan, al-makan alladzi huwa al-masjid, yakunu baitahum ats-tsani wa yakunu fihi jami’u nasyathatihim,” papar Syekh.

Artinya: “Di sini mereka berkumpul bersama teman-teman dan saudara mereka, berdiskusi dan menghabiskan waktu bersama. Karena itu, masjid menjadi tempat yang menjadi rumah kedua mereka dan menjadi ruang bagi berbagai aktivitas mereka.”

Ia juga mengaitkan kehidupan masjid dengan pembentukan lingkungan pertemanan yang baik. Menurutnya, hubungan pertemanan memiliki pengaruh terhadap karakter seseorang, sehingga masjid dapat menjadi ruang tumbuhnya persahabatan yang positif.

“Falidzalika al-masjidu huwa makanu ash-shuhbati ash-shalihati wash-shadaqah,” tuturnya.

Artinya: “Karena itu, masjid adalah tempat untuk membangun persahabatan dan pertemanan yang baik.”

Anak Muda dan Ruang Teknologi

Kedekatan generasi muda dengan masjid, lanjut Sheikh Alaa al-Din, juga perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mereka menghadapi perkembangan teknologi. Ia melihat anak muda sebagai kelompok yang paling dekat dengan teknologi dan media digital.

Sheikh Alaa al-Din menilai ruang digital perlu diisi oleh generasi muda dengan gagasan yang baik dan benar. Mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu mengambil peran dalam menyampaikan nilai-nilai positif.

Baca Juga  Azis Syamsuddin Puji Ketegasan Presiden dan Kerja KPK

“Hadzihi sahah yajibu an yanzila ilaiha syababuna ila al-media wa ya’maluna bi jidd, wa yakun lahum aham shay’ marji’iyyah min al-‘ulama’ hatta la yakun hadha al-shab yatakallam illa ‘an rusukh, wa yakun lahu fi hadha marji’ wa masdar asas yattaki’u ‘alayh.” Terangnya.

Artinya: “Ini adalah ruang yang harus dimasuki oleh generasi muda kita, yaitu media, dan mereka harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Hal terpenting adalah mereka harus memiliki rujukan (bimbingan) dari para ulama, agar para pemuda ini tidak berbicara melainkan dengan pemahaman yang kokoh, serta memiliki referensi dan sumber utama sebagai sandarannya.”

Namun, ia mengingatkan keterlibatan anak muda di ruang digital perlu disertai pijakan keilmuan dan rujukan yang jelas. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat keagamaan sekaligus menghadirkan gagasan yang konstruktif di tengah masyarakat.

Indonesia Dinilai Tampilkan Wajah Islam yang Cerah

Pandangan Sheikh Alaa al-Din mengenai peran masjid dan generasi muda tersebut disampaikan setelah ia melihat secara langsung kehidupan masyarakat Indonesia selama mengikuti IGIC 2026. Sebagai negara dengan populasi Muslim yang besar, Indonesia menurutnya memberikan kesan tersendiri. Ia menyoroti akhlak, keramahan, kelembutan, keteraturan, kebersihan, serta penghormatan masyarakat Indonesia terhadap ilmu dan para ulama.

“Alhamdulillah antum ta’lamun anna aham ‘unsurin fi ad-din huwa al-akhlaq. Alhamdulillah hadza zhahirun fi akhlaqi ikhwanina fi Indunisiya, fi at-ta’amul, fi al-luthfi, fi makarim al-akhlaq.  Fa Indunisiya al-yauma tumatsstilu wajhan musyriqan lil-Islam wal-muslimin,” katanya.

Artinya: “Alhamdulillah, kalian mengetahui bahwa unsur terpenting dalam agama adalah akhlak. Alhamdulillah, hal itu terlihat dalam akhlak saudara-saudara kita di Indonesia, dalam cara mereka berinteraksi, kelembutan, dan kemuliaan akhlak.Indonesia hari ini merepresentasikan wajah yang cerah bagi Islam dan kaum Muslimin.”

Baca Juga  Presiden KAI: Hak Angket DPR Pilpres 2024 Akan Kandas, Ganjar dan Anies Bukan Ketum Parpol

Ia mengatakan kesan tersebut menjadi salah satu hal yang menurutnya penting dalam melihat pengalaman Indonesia dalam kehidupan keagamaan dan sosial.

Pesan untuk Anak Muda Indonesia

Di akhir wawancara, Sheikh Alaa al-Din menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Indonesia. Ia mengingatkan bahwa anak muda memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan keagamaan sekaligus menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.

“Ya syababa Indunisiya, antum ‘ala tsaghrin ‘azhim, fakunu kama aradakum Allah khuddaman lihadzad-din, wa kunu kama aradakum Allah ahbaban li rasulihi shallallahu ‘alaihi wa sallam,” Pesan Syekh.

Artinya: “Wahai generasi muda Indonesia, kalian berada di posisi yang sangat penting. Maka jadilah sebagaimana yang Allah kehendaki, sebagai pelayan agama ini, dan jadilah sebagaimana yang Allah kehendaki, sebagai orang-orang yang mencintai Rasul-Nya.”

Pesan tersebut mempertemukan kembali dua ruang yang menjadi perhatian Sheikh Alaa al-Din, yakni masjid dan kehidupan generasi muda. Masjid diharapkan tetap menjadi ruang yang hidup di tengah masyarakat, sementara generasi muda mengambil bagian di dalamnya, termasuk dengan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyebarkan kebaikan dan nilai-nilai keagamaan.

Bagi Sheikh Alaa al-Din, keterlibatan anak muda bukan sekadar soal menjaga aktivitas masjid tetap berjalan, tetapi juga memastikan nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya dapat terus hadir dan menjangkau masyarakat di tengah perubahan zaman.(***)

 

News Feed