“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, mencapai 6 persen di tahun 2027 dibutuhkan akselerasi pertumbuhan investasi hingga 7 persen. Target ini akan dicapai melalui kolaborasi Pemerintah, Swasta dan Danantara,” ujar Menkeu.
Target tersebut didukung oleh fundamental ekonomi nasional yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Pada Semester I 2026, perekonomian Indonesia tumbuh 5,45 persen (cumulative-to-cumulative) dengan inflasi yang tetap terkendali. Likuiditas perbankan juga memadai untuk menopang penyaluran kredit.
Neraca perdagangan Januari–Juni 2026 tetap mencatat surplus, sementara cadangan devisa hingga Juli mencapai USD145,3 miliar. Sentimen positif di pasar keuangan domestik juga terus berlanjut, tercermin dari apresiasi nilai tukar rupiah, penguatan IHSG, dan perkembangan yield SBN yang kondusif. Aliran modal masuk hingga 28 Agustus 2026 mencapai Rp140,6 triliun.
Kinerja APBN juga tetap solid. Hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tumbuh 21,3 persen secara year-on-year (yoy), sementara belanja negara tetap tumbuh kuat dengan defisit terkendali pada level 0,91 persen terhadap PDB.
Sinergi Kebijakan Dorong Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi
“APBN difokuskan untuk memenuhi kebutuhan publik dan berperan sebagai katalis untuk membangkitkan peran swasta dalam akselerasi pertumbuhan dan peningkatan kesejahteraan,” jelas Menkeu.
Dalam kerangka tersebut, Pemerintah akan berperan sebagai katalisator investasi, sementara sektor swasta menjadi motor penggerak utama. Danantara didorong untuk mempercepat investasi produktif, khususnya pada sektor strategis dan hilirisasi yang memiliki nilai tambah tinggi serta berdampak besar terhadap transformasi ekonomi nasional.
Pemerintah bersama Bank Indonesia juga akan terus menjaga stabilitas ekonomi makro melalui pengendalian inflasi, penjagaan suku bunga tetap kompetitif, serta stabilitas nilai tukar rupiah. Di sektor strategis, khususnya minyak dan gas bumi, optimalisasi didorong melalui reaktivasi sumur tidak aktif, percepatan pengembangan cadangan, pemanfaatan teknologi, penguatan pengawasan dan perbaikan iklim investasi hulu migas.
APBN 2027 Tetap Sehat dan Berkelanjutan
“Berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, memperkuat investasi, dan menjaga stabilitas ekonomi tersebut harus didukung oleh APBN yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan,” tegas Menkeu.
Komitmen tersebut tercermin dalam arsitektur RAPBN 2027. Pendapatan negara direncanakan sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara sebesar Rp4.097,2 triliun, dengan defisit anggaran dijaga sebesar 2,40 persen terhadap PDB.
Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp17.500 per dolar AS, dan suku bunga SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9 persen. Sementara itu, ICP diasumsikan USD75 per barel, lifting minyak 610 ribu barel per hari, dan lifting gas 954 ribu barel setara minyak per hari. Dalam pembahasan bersama Komisi XII DPR RI dan kementerian/lembaga terkait, lifting minyak berubah menjadi 612,5 ribu barel per hari.
Sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan pada 2027 turun ke rentang 6,0–6,5 persen, tingkat pengangguran terbuka 4,30–4,87 persen, rasio Gini 0,362–0,367, serta Indeks Modal Manusia meningkat menjadi 0,575. Dengan demikian, akselerasi investasi dan pertumbuhan ekonomi diarahkan tidak hanya untuk memperkuat aktivitas ekonomi, tetapi juga memastikan manfaat pertumbuhan semakin luas dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.










