oleh

Penyuluh Agama Gorontalo Raih Penghargaan Tokoh Desa Inspiratif Lewat Inovasi Al-Baghdadiyah Braille

SIN.CO.ID – Penyuluh Agama Islam Provinsi Gorontalo, Riska Duduti, meraih Suharso Monoarfa Foundation Award 2026 kategori Tokoh Desa Inspiratif. Penghargaan yang digagas Yayasan Suharso Monoarfa tersebut diberikan kepada tokoh-tokoh inspiratif yang dinilai memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah.

Pada 2026, penghargaan diberikan dalam tiga kategori, yaitu Tokoh Desa, Mahasiswa Pejuang, dan Siswa Kreatif. Riska menerima penghargaan tersebut atas kiprahnya dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra melalui inovasi metode Al-Baghdadiyah Braille.

Riska mengatakan, inovasi tersebut dikembangkan melalui kegiatan pembinaan di Pondok Pesantren Inklusi Disabilitas Putra Mandiri Gorontalo. Kegiatannya kemudian mendapat perhatian salah satu stasiun televisi swasta nasional.

“Awalnya saya dihubungi oleh salah satu TV swasta nasional, SCTV, untuk meliput kegiatan saya di Ponpes Inklusi Disabilitas Putra Mandiri Gorontalo. Ternyata saat peliputan ada enam TV swasta nasional yang hadir, yaitu SCTV, Indosiar, Metro TV, TV One, Trans TV, dan New TV,” ujar Riska saat diwawancarai Tim Bimas Islam, Senin (24/8/2026).

Menurut Riska, perhatian tersebut tidak terlepas dari metode Al-Baghdadiyah Braille yang dikembangkannya untuk membantu penyandang disabilitas netra mengenal huruf Al-Qur’an. Inovasi itu lahir karena masih terbatasnya guru yang memiliki kemampuan khusus untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada penyandang disabilitas netra di Gorontalo.

Baca Juga  Santri Darul Hikmah Medan Raih Beasiswa BIB Akselerasi S1-S2 Kemenag

“Yang saya angkat adalah metode Al-Baghdadiyah Braille, yaitu metode pengenalan huruf Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra. Di Gorontalo masih kurang guru khusus, sehingga saya berinovasi menciptakan sebuah metode khusus untuk netra,” jelasnya.

Riska menjelaskan, buku metode Al-Baghdadiyah Braille yang dikembangkannya telah melalui proses di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama dan memperoleh hak cipta dari Kementerian Hukum dan HAM.

Melalui metode tersebut, Riska mengajarkan santri penyandang disabilitas netra mengenal huruf Al-Qur’an melalui tulisan Braille sehingga mereka dapat membaca Al-Qur’an secara mandiri.

“Alhamdulillah dengan inovasi ini saya bisa menciptakan sebuah metode khusus penyandang disabilitas netra. Metode Al-Baghdadiyah Braille sangat membantu para disabilitas netra di Provinsi Gorontalo untuk bisa membaca Al-Qur’an Braille,” ungkapnya.

Dampak program tersebut terlihat dari prestasi dua santri binaannya di Pondok Pesantren Disabilitas Putra Mandiri Gorontalo. Keduanya meraih juara II dan III cabang tilawah penyandang disabilitas netra pada MTQ Tingkat Provinsi Gorontalo 2026 dengan menggunakan Al-Qur’an Braille.

Baca Juga  Kampus UI Terima 1.094 Mahasiswa Baru Jalur SNMPTN

Riska menuturkan, metode tersebut memberikan pengalaman baru bagi penyandang disabilitas netra. Sebelumnya, sebagian dari mereka hanya mengenal kata-kata dalam Al-Qur’an melalui pendengaran.

“Misalnya selama ini mereka hanya mengenal kata ‘Allah’ dengan mendengar. Setelah saya ajarkan tulisan Allah kepada mereka, mereka sangat bahagia. Padahal usia mereka rata-rata di atas 10 tahun, bahkan ada yang di atas 30 tahun. Artinya, mereka sangat merindukan kalimat suci, tetapi terbatas karena tidak ada yang mengajarkan,” tuturnya.

Riska sebelumnya juga meraih Terbaik I kategori Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur’an pada PENAIS Award tingkat nasional 2025 melalui inovasi pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra.

Sebagai Penyuluh Agama Islam, Riska terus memperluas pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra melalui sosialisasi metode Al-Baghdadiyah Braille. Sosialisasi dilakukan secara daring maupun melalui pembinaan di majelis taklim, sekolah, kampus, dan TPQ.

Baca Juga  Wanita Islam dan Women’s Wing RISEAP Gelar International Women Leadership Training : Perempuan Muslim dapat Menjadi Pemimpin Perubahan

Ia juga memperkenalkan metode tersebut dalam berbagai kegiatan pemerintah daerah dan Kementerian Agama dengan menampilkan santri netra membaca Al-Qur’an Braille. Tidak hanya kepada santri di pesantren, Riska mengajarkan metode tersebut kepada penyandang disabilitas netra di luar pesantren. Buku Al-Baghdadiyah Braille juga dibagikan secara gratis kepada mereka yang membutuhkan.

“Bagi saya yang paling utama adalah disabilitas netra bisa membaca Al-Qur’an Braille dengan baik. Harga bukunya sekitar Rp285 ribu per buah, tetapi saya membagikannya secara gratis karena sejak awal niat saya buku ini bukan untuk mencari keuntungan,” katanya.

Kiprah tersebut membuat Riska semakin sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan di Gorontalo. Ia bersama para santri netra binaannya juga kerap diundang untuk tampil, salah satunya oleh Bank Indonesia Gorontalo.

“Saya sangat bersyukur mendapatkan penghargaan Suharso Monoarfa Foundation yang digagas oleh Yayasan Bapak Suharso Monoarfa. Buku saya ini akan beliau bantu terbitkan di percetakan di Jakarta dan disebarkan ke seluruh dunia, hingga Arab Saudi, agar para disabilitas netra bisa menggunakannya,” ujarnya.

News Feed