SIN.CO.ID – Tradisi memasak bersama atau ngelawar tidak sekadar menjadi cara umat Hindu menjaga warisan kuliner yang turun-temurun. Di parade ngelawar kali ini tradisi tersebut juga menjadi ruang untuk merawat semangat gotong royong yang diikuti umat hindu se-Jabodetabek.
Pesan itu tercermin dalam Parade Ngelawar yang digelar di Pura Agung Tamansari, Jakarta. Sebanyak 19 tim dari wilayah Jabodetabek mengikuti kegiatan yang mempertemukan lintas generasi dalam proses membuat lawar, makanan khas Bali yang diracik dari daging cincang, sayuran, dan aneka bumbu.
Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama I Nengah Duija mengatakan, proses meracik lawar dapat menjadi gambaran sederhana atau tentang bagaimana perbedaan justru dapat menghasilkan sesuatu yang harmonis ketika dipadukan.
“Ini sebagai representasi perbedaan ketika dia menyatu dalam bumbu, tidak ada rasa yang dominan. Pasti rasanya sama. Rasa itulah yang membuktikan bahwa perbedaan itu hakiki tetapi perbedaan itu melahirkan satu bahasa, yaitu rasa yang enak,” ujarnya saat memberikan sambutan di Pura Agung Tamansari, Jakarta, (16/8/2026).
Menurut I Nengah, filosofi tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang dibangun dari beragam latar belakang. Perbedaan tidak harus dihilangkan, tetapi dapat dirangkai menjadi kekuatan bersama.
Parade Ngelawar juga menunjukkan bahwa tradisi kuliner yang berasal dari Bali dapat terus hidup dan berkembang di tengah komunitas Hindu yang berada di kawasan Jabodetabek.
“Pada hari ini juga umat Hindu membuktikan bahwa tradisi kuliner yang dibawa dari tanah kelahirannya telah berkembang dengan baik di Jabodetabek,”
I Nengah menilai keberlanjutan tradisi sangat bergantung pada kemampuan untuk melibatkan generasi muda. Karena itu, kegiatan seperti Parade Ngelawar tidak hanya menjadi ajang mempertahankan tradisi, tetapi juga sarana memperkenalkan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
“Dari lintas generasi ini kita harapkan Bahwa tradisi ngelawar ini adalah tradisi yang harus kita lestarikan sampai kapanpun. Karena ini adalah ciri khas kita sebagai umat Hindu,” katanya.
Lebih dari sekadar tradisi masak-memasak, ngelawar juga memiliki dimensi kebersamaan. Prosesnya dilakukan secara gotong royong, terutama oleh para pria Bali, mulai dari menyiapkan bahan, meracik bumbu, hingga menghasilkan lawar untuk dinikmati bersama.
Dirjen Bimas Hindu itu mengaitkan semangat tersebut dengan makna kemerdekaan yang diperingati masyarakat Indonesia setiap Agustus. Menurutnya, kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan terbebasnya seseorang dari penjajahan secara fisik, tetapi juga menyangkut keluasan jiwa.
“Hari yang kita tunggu-tunggu setiap tahun di mana kita memiliki jiwa yang merdeka. Dalam bahasa Jawa kuno kita melahirkan jiwa yang mahardika. Merdeka tidak semata-mata pada fisik tetapi juga yang disebut dengan mahardika. Mahardika itu adalah apa yang disebut dengan berjiwa besar,” tegasnya.










