oleh

Gempa Menguji Ketangguhan, Solidaritas Jadi Kekuatan Bangsa

SIN.CO.ID – Indonesia sedang merayakan kemerdekaannya. Suasana penuh suka cita dan kegembiraan menyelimuti seluruh warga. Ada lagu perjuangan yang berkumandang dan upacara bendera di mana-mana. Tapi, di tengah euforia merayakan HUT Kemerdekaan ini, saya ingin mengajak pembaca merenung sejenak. Di saat yang sama, bumi Flores  berguncang?

Mengapa di tanahku terjadi bencana? Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang, kata Ebit G Ade dalam syair Berita Kepada Kawan.

Gempa membawa pertanyaan yang jauh lebih dalam. Bukan sekadar fenomena geologis, tapi tentang pesan kehidupan dari semesta. Bumi seakan sedang marah, berontak, dan menghancurkan. Di titik inilah manusia tersadar. Ia bersujud dan mengakui dengan penuh kerapuhan bahwa manusia tidak punya kuasa penuh atas dunia ini. Rumah yang dibangun dengan biaya mahal, runtuh dalam hitungan detik. Jalanan megah hasil proyek kebanggaan tunduk pada amarah alam. Gedung kokoh karya insinyur handal, roboh tanpa penjelasan ilmiah. Semua tunduk pada alam. Gempa meruntuhkan ilusi bahwa manusia adalah penguasa alam.

Baca Juga  KEPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI MUBAZIR

Gempa mengingatkan manusia bahwa alam bukanlah objek yang menunggu untuk diselamatkan. Alam tidak menunggu manusia untuk menghadapi gejolaknya. Alam punya cara main sendiri. Nilai alam tidak pernah bergantung pada kesadaran manusia. Alam sungguh merdeka dalam dirinya sendiri. Manusia bukan penguasa alam. Gempa mengguncang kesadaran manusia.

Gempa, Merdeka, dan Solidaritas

Sebagai peristiwa alam, gempa sebenarnya menggugah kesadaran manusia. Gempa adalah cara alam berbicara tanpa kata-kata. Ia masuk ke dalam kesadaran manusia dan berbisik bahwa manusia punya keterbatasan. Gempa tidak peduli apakah anda kaya atau miskin, apa agama anda, atau apa jabatan dan status sosial anda. Gempa memaksa manusia untuk berlari bersama, mencari keluarga dan sahabat, menolong korban, menangis, dan akhirnya berdoa bersama sebagai simbol betapa rapuhnya manusia.

Gempa mengajarkan manusia tentang arti kemerdekaan agar tidak ditafsirkan sebagai kebebasan untuk berbuat sesuka hati terhadap kehidupan.Merdeka itu bukan berarti bebas mengeksploitasi. Merdeka bukan berarti bebas mengambil sebanyak-banyaknya dari alam lalu membiarkan generasi mendatang menanggung beban penderitaannya. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk berani membatasi diri, mengendalikan diri, dan sadar diri untuk berkata cukup. Ya, cukup mengambil, cukup merusak, dan cukup mengeksploitasi.

Baca Juga  Ketum Firdaus dan Sekjen Makali Kumar Pimpin SMSI Pusat Temui Kabaintelkam Polri: Bahas Media Siber yang Profesional dan Berkesinambungan

Lebih jauh gempa mengajarkan esensi kemerdekaan, di mana setiap orang tergerak secara bebas untuk berjalan bersama dan menolong sesama yang sedang terguncang, tanpa terjajah oleh egoisme maupun sekat suku, agama, dan ras. Manusia dengan hati merdeka tidak melihat gempa cuma soal magnitudo, skala Richter, atau jumlah korban siapa , dari mana, agama apa dan suku apa. Tetapi adanya kesadaran untuk memastikan dibalik setiap angka, ada manusia, ada kemerdekaan untuk mewujudkan solidaritas yaitu kesediaan untuk TIDAK membiarkan orang lain menghadapi penderitaannya sendirian.

Pesan Menteri Agama sebagaimana ditulis dalam berita Kemenag.go.id.sangat menyentuh.  Ia berseru, “Jangan khawatir, kalian tidak sendiri. Tentu pemerintah bersama segenap warga bangsa Indonesia, khususnya umat beragama, akan ikut memberikan bantuan dan pertolongan. Doa kami selalu menyertai Bapak dan Ibu sekalian. Ya Tuhan, ya Allah, ya Rabbi, berikanlah kekuatan kepada saudara-saudara kami yang terdampak musibah ini.”

Baca Juga  Antusias Warga Terhadap Mobil Vaksin Covid-19 Keliling

Pada saat yang sama Plt Dirjen Bimas Katolik bergerak cepat, seraya berkata, “Kami tidak ingin berhenti pada rasa prihatin. Ditjen Bimas Katolik hadir untuk bergerak bersama umat, memastikan kebutuhan di lapangan terdata, dan menyiapkan dukungan yang diperlukan untuk proses pemulihan, dan saat ini sedang menyiapkan bantuan sarana prasana yang akan disalurkan kepada gereja maupun satuan pendidikan kegamaan Katolik yang terdampak.”

Kita merenung, di saat kita mengangkat kepala menghormat bendera di tiang tinggi, namun gempa justru mengajak kita untuk menundukkan kepala ke bumi dan  rendahkan hati. Gempa membangkitkan kesadaran manusia tentang arti merdeka di mana manusia secara bebas untuk solider dengan sesama.

News Feed