SIN.CO.ID – Perempuan Indonesia harus mengambil peran sebagai pelaku utama ekonomi digital, bukan sekadar menjadi pengguna teknologi. Untuk itu, literasi digital menjadi bekal penting agar perempuan mampu menciptakan peluang usaha, memperluas pasar, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pesan tersebut disampaikan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Helmi Nasaruddin Umar, saat membuka Workshop Digital Marketing bertema Perempuan Berdaya Melalui Literasi Digital untuk Mengembangkan Usaha. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama DWP Kementerian Agama dengan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI).
Menurut Helmi, transformasi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, belajar, bekerja, hingga menjalankan usaha. Karena itu, perempuan didorong untuk memanfaatkan teknologi digital, tidak hanya sebagai sarana mengakses informasi, tetapi juga sebagai media membangun usaha yang produktif dan berdaya saing.
“Perempuan Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam transformasi digital, tetapi harus menjadi pelaku utama yang menciptakan peluang, membuka lapangan usaha, dan menghadirkan manfaat bagi keluarga serta masyarakat,” tegasnya di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ia menambahkan, anggota DWP perlu membekali diri dengan berbagai keterampilan digital yang dapat diterapkan dalam mengembangkan usaha. Mulai dari strategi digital marketing, optimalisasi media sosial, pembuatan konten, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing produk.
Selain meningkatkan kemampuan berwirausaha, Helmi mengingatkan bahwa pemanfaatan ruang digital harus disertai tanggung jawab moral. Sebagai bagian dari Kementerian Agama, anggota Dharma Wanita Persatuan diharapkan mampu menghadirkan konten yang berkualitas sekaligus menjadi teladan dalam membangun ruang digital yang sehat.
“Sebagai bagian dari keluarga besar Kementerian Agama, mari kita jadikan ruang digital sebagai ruang yang membawa nilai-nilai kebaikan, menjunjung tinggi etika, kejujuran, toleransi, dan moderasi dalam setiap konten maupun aktivitas bisnis yang kita lakukan,” pesannya.
Ketua Bidang Pendidikan DWP Kementerian Agama, Hilda Ainisysyifa Ramdhani, mengatakan kerja sama dengan PANDI merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam meningkatkan kapasitas anggota menghadapi perkembangan teknologi digital sekaligus memperkuat ekonomi keluarga melalui pengembangan usaha.
“Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kompetensi digital perempuan Indonesia agar semakin adaptif, produktif, dan mampu bersaing di era transformasi digital,” ujarnya.
Hilda menjelaskan, PANDI dipilih sebagai mitra karena memiliki pengalaman dalam mengembangkan literasi digital di Indonesia. Melalui kolaborasi tersebut, peserta memperoleh wawasan mengenai digital marketing, pemanfaatan media sosial, pembangunan identitas merek, hingga strategi memperluas jangkauan pasar bagi pelaku UMKM.
Workshop ini menghadirkan narasumber dari PANDI, Muhammad Ary Musara, serta Vice President SMESCO Indonesia, Astika Kasiro. Keduanya berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam mengembangkan usaha melalui pemanfaatan teknologi digital.










